featured video

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

4 Langkah Tepat Memberikan Konsekuensi Pada Anak

Written By Unknown on Jumat, 03 Maret 2017 | 07.09


4 Langkah Tepat Memberikan Konsekuensi Pada Anak
Hindari memberikan konsekuensi yang tidak ada kaitannya, misalnya tidak boleh nonton televisi selama 2 minggu atau tidak mendapat uang jajan 3 hari. Jangan melampiaskan marah berlebih yang akibatnya hanya memperpanjang daftar konsekuensi. Saat fokus pada masalah, maka mudah bagi anak tahu dan jelas dimana kesalahannya.
2. Wajar dan Masuk Akal
Sesuaikan dengan kemampuan dan usia anak, jika usia anak masih balita akan sulit untuk membersihkan dan menjemur karpet sendirian, perlu dibantu dan diberikan contoh mengerjakannya.
Mungkin anda khawatir anak tidak jera, jika dibantu? Dengan membantu anak saat mengerjakan konsekuensi, hal ini dapat menumbuhkan kedekatan emosional dan pengertian anak terhadap orangtuanya. Ada waktu bersama, asalkan orangtua tidak mengomel terus saat mengerjakan bersama.
Anda tidak perlu mencari efek jera bagi anak, waktu yang digunakan untuk membersihkan karpet sudah membuat dia berada di luar zona nyamannya.
3. Memberikan Pengalaman Belajar
Tujuan konsekuensi memberikan pengalaman belajar dari tidak paham menjadi paham. Memang sebelum konsekuensi diberikan sebaiknya sudah ada aturan yang menjelaskan mana perilaku yang baik dan tidak baik.

Penyebab Utama Anak Berperilaku Kasar

Tidak ada hal yang lebih menjengkelkan ketika melihat seorang anak bersi
kap kasar terhadap temannya atau orang lain. Kekasaran adalah ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya dan tidak menyenangkan bagi orang lain, sehingga enggan berada di dekatnya.
 
Bersikap kasar adalah suatu tindakan yang tidak pantas, memalukan, dan menjengkelkan. Kita perlu belajar mengatasi hal ini, karena semakin hari semakin banyak contoh bagaimana seseorang bersikap dan bertindak kasar dalam merespon sesuatu. Dan itu bukanlah contoh yang baik untuk dilihat oleh anak-anak kita.
 
Disinilah peran orangtua untuk mengarahkan perilaku anak agar agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus bisa memberikan kendali terhadap ekspresi emosi anak, dan menuntunnya ke arah yang positif dan bermanfaat.
Sebenarnya ada dua hal yang menjadi alasan utama mengapa seorang anak bertindak kasar.

1. Ketidaktahuan
Ketidaktahuan dapat menyebabkan seorang anak bertindak kasar, karena mereka tidak tahu bagaimana cara merespon suatu situasi dengan baik. Emosi negatif cepat sekali menguasai hati dan pikirannya, sehingga respon kasar dalam bentuk perilaku dan ucapan bergerak cepat untuk dimunculkan. Ketidaktahuan disini bisa juga dapat diartikan kurangnya pemahaman dalam berperilaku baik.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jurnal Sahabat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger